KRIAN.ONLINE: Satpol PP Sidoarjo Bongkar Lokalisasi Krengseng, Tekan Risiko Penyebaran HIV/AIDS #beritaterkini
**Akhir Riwayat Lokalisasi Krengseng: Buldoser Ratakan Sarang Prostitusi, Sidoarjo Perangi HIV/AIDS** **KRIAN.ONLINE** – Deru mesin alat berat memecah keheningan pagi di Desa Jerukgamping, Kecamatan Krian, pada Senin (3/8/2026). Satu per satu, bangunan semi permanen yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu praktik prostitusi di lokalisasi Krengseng, rata dengan tanah. Di bawah komando Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sidoarjo, operasi pembongkaran ini menjadi penanda babak akhir dari salah satu "noda hitam" di wilayah tersebut. Langkah tegas ini bukan sekadar penegakan peraturan daerah, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk menekan risiko penyebaran HIV/AIDS yang mengintai di balik bilik-bilik asmara terlarang.
Operasi penertiban yang digelar sejak pagi hari itu berjalan lancar tanpa perlawanan berarti. Ratusan personel gabungan dari Satpol PP, didukung oleh aparat TNI dan Polri, mengamankan lokasi untuk memastikan proses pembongkaran berlangsung kondusif. Menurut pantauan KRIAN.ONLINE di lapangan, bangunan-bangunan yang dieksekusi mayoritas sudah dalam keadaan kosong, ditinggalkan oleh para penghuninya setelah serangkaian peringatan dan sosialisasi yang dilakukan pemerintah daerah. Puing-puing bangunan kini menjadi satu-satunya yang tersisa dari denyut kehidupan malam yang pernah begitu menggeliat di kawasan yang lebih dikenal dengan sebutan "Krengseng" tersebut.
Kepala Satpol PP Kabupaten Sidoarjo, dalam keterangannya kepada KRIAN.ONLINE, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam memberantas penyakit masyarakat (pekat) secara tuntas. "Ini bukan sekadar membongkar bangunan fisik. Ini adalah upaya kami membongkar akar masalah sosial dan kesehatan yang telah lama meresahkan warga. Lokalisasi ilegal seperti Krengseng adalah episentrum potensial penyebaran penyakit menular seksual, terutama HIV/AIDS. Dengan meniadakan tempatnya, kita memutus salah satu mata rantai penyebarannya," ujar pimpinan penegak perda tersebut dengan tegas di sela-sela operasi pembongkaran.
Sejarah lokalisasi Krengseng sendiri terbilang panjang dan berliku. Kawasan ini telah menjadi sorotan publik dan target penertiban berkali-kali selama beberapa dekade. Namun, seperti jamur di musim hujan, praktik prostitusi selalu kembali tumbuh meski telah digempur berulang kali. Kegigihan para pelaku dan adanya permintaan pasar membuat lokalisasi ini sulit untuk dimatikan sepenuhnya. Namun, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo kali ini menunjukkan keseriusan yang berbeda. Pembongkaran total hingga tak bersisa ini diharapkan menjadi solusi permanen untuk mengubah wajah Desa Jerukgamping dari citra negatif yang selama ini melekat.
Fokus utama yang melandasi operasi besar ini, sebagaimana ditegaskan dalam banyak kesempatan, adalah aspek kesehatan publik. Data dari Dinas Kesehatan yang dirujuk oleh KRIAN.ONLINE menunjukkan tren peningkatan kasus HIV/AIDS yang mengkhawatirkan di kalangan populasi berisiko tinggi, termasuk pekerja seks dan pelanggannya. Praktik seks yang tidak aman di lokasi-lokasi yang tidak terkontrol seperti Krengseng menjadi medium penularan yang sangat efektif. "Menutup lokalisasi adalah salah satu strategi hulu yang paling krusial. Kita tidak bisa hanya fokus pada pengobatan di hilir, tetapi harus berani memangkas sumber penularannya," ungkap seorang pejabat kesehatan yang tidak ingin disebutkan namanya kepada KRIAN.ONLINE.
Dukungan atas langkah tegas ini mengalir deras dari masyarakat sekitar. Warga Desa Jerukgamping, yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan stigma negatif, menyambut baik pembongkaran tersebut. Sutrisno, seorang tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan rasa leganya. "Alhamdulillah, akhirnya kampung kami bisa bersih. Selama ini kami malu, anak-anak kami juga kena imbasnya. Kami berharap setelah ini, pemerintah bisa membantu menata kawasan ini menjadi sesuatu yang lebih positif dan produktif bagi warga, mungkin ruang terbuka hijau atau sentra ekonomi kecil," tuturnya penuh harap saat ditemui oleh KRIAN.ONLINE.
Tentu saja, pembongkaran fisik ini hanyalah langkah awal dari sebuah pekerjaan rumah yang lebih besar. Pertanyaan yang tak terhindarkan adalah nasib para mantan pekerja seks yang sebelumnya menggantungkan hidupnya di lokalisasi tersebut. Pemerintah daerah, melalui Dinas Sosial, dituntut untuk menyiapkan program pembinaan dan alih profesi yang komprehensif. Tanpa adanya solusi sosial dan ekonomi yang nyata, dikhawatirkan mereka akan kembali ke jalanan atau membuka praktik serupa di lokasi lain secara sembunyi-sembunyi, yang justru akan lebih sulit untuk dipantau dan dikendalikan risiko kesehatannya.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, menurut informasi yang dihimpun KRIAN.ONLINE, telah merancang sejumlah program pasca-penutupan. Program tersebut mencakup pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, serta pendampingan psikologis dan spiritual bagi para mantan penghuni lokalisasi. "Kami tidak akan lepas tangan. Mereka adalah warga kami juga yang perlu dibina dan diarahkan ke jalan yang benar. Penertiban ini harus diimbangi dengan solusi yang humanis," tambah Kasatpol PP. Keberhasilan program lanjutan inilah yang akan menjadi penentu sesungguhnya dari efektivitas penutupan lokalisasi Krengseng. Pada akhirnya, pembongkaran ini adalah simbol kuat bahwa Sidoarjo tidak memberikan ruang bagi praktik prostitusi dan berkomitmen penuh melindungi warganya dari ancaman HIV/AIDS.
Komentar
Posting Komentar