Tragis: Lansia Aniaya Anaknya dengan Tabung Gas Elpiji hingga Tewas di Lamongan, Pelaku Sempat Kabur — KRIAN.ONLINE

KRIAN.oneline Sebuah tragedi keluarga yang memilukan menyelimuti Dusun Glogok, Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan, pada Minggu pagi (26/5/2024). Seorang ayah lanjut usia, berinisial W (71), tega mengakhiri hidup anak kandungnya sendiri, AH (37), dengan cara yang mengerikan. Puncak amarah yang terpendam selama bertahun-tahun meledak dalam satu aksi nekat, menggunakan sebuah tabung gas elpiji 3 kg sebagai senjata. Peristiwa nahas ini terjadi di dalam kediaman mereka sekitar pukul 08.30 WIB. Pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi arena pertumpahan darah ketika kesabaran sang ayah mencapai titik terendahnya. Menurut informasi yang berhasil dihimpun di lokasi kejadian, pemicu utama dari aksi brutal ini adalah akumulasi kekesalan dan frustrasi W terhadap perilaku AH. Selama ini, korban dikenal sering kali marah-marah tanpa sebab yang jelas, merusak perabotan rumah, dan kerap kali meminta uang secara paksa kepada kedua orang tuanya yang sudah renta. Pada pagi nahas itu, AH kembali menunjukkan tabiatnya. Ia mengamuk dan membuat seisi rumah tegang. W, yang sudah tidak tahan lagi menanggung beban mental tersebut, diliputi emosi yang tak terkendali. Dalam kondisi kalap, ia berjalan menuju dapur, mengambil sebuah tabung gas elpiji 3 kg yang ada di sana, lalu menghampiri AH yang saat itu tengah duduk di lantai. Tanpa sepatah kata pun, W mengayunkan tabung gas tersebut dan menghantamkannya dengan keras ke bagian belakang kepala sang anak. Benturan keras itu seketika membuat AH tersungkur dan tak sadarkan diri. Nyawanya melayang di tempat kejadian perkara akibat luka parah di kepala. Menyadari perbuatannya yang fatal, W dilanda kepanikan. Alih-alih menyerahkan diri atau meminta pertolongan, ia memilih untuk melarikan diri dari rumah, meninggalkan jasad anaknya yang tergeletak bersimbah darah. Warga sekitar yang mendengar kegaduhan dan kemudian menemukan kondisi AH yang mengenaskan segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. Tak butuh waktu lama, tim dari Satreskrim Polres Lamongan tiba di lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Garis polisi segera dipasang di sekeliling rumah sederhana itu, menjadi saksi bisu sebuah drama keluarga yang berakhir tragis. Jenazah AH kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk proses autopsi guna memastikan penyebab pasti kematian. Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Mirzal Maulana, saat dikonfirmasi, membenarkan detail peristiwa tersebut. "Benar, telah terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anak kandungnya. Pelaku adalah W, berusia 71 tahun, dan korban adalah AH, 37 tahun," ujarnya. Pihak kepolisian segera bergerak cepat untuk memburu pelaku. Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga lainnya, polisi berhasil mendeteksi keberadaan W yang ternyata melarikan diri ke rumah putranya yang lain di Desa Tracal, yang tidak jauh dari lokasi kejadian. "Setelah melakukan penyelidikan dan olah TKP, kami segera melakukan pengejaran. Berkat kerja sama dengan pihak keluarga, pelaku berhasil kami amankan di rumah anaknya yang lain tanpa perlawanan berarti," jelas AKP Mirzal. Di hadapan penyidik, W mengakui perbuatannya. Ia menuturkan bahwa dirinya sudah sangat jengkel dan lelah dengan kelakuan korban yang terus-menerus menyusahkan dan menyakiti hatinya. Puncak amarah pada Minggu pagi itu menjadi akhir dari kesabarannya selama ini. Ia mengaku menyesali perbuatannya, namun emosi sesaat telah mengubah takdirnya menjadi seorang pesakitan di usia senja. Saat ini, W telah ditahan di Mapolres Lamongan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Sejumlah barang bukti, termasuk tabung gas elpiji 3 kg yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban, telah diamankan oleh pihak berwenang. Suasana duka dan ketidakpercayaan masih menyelimuti keluarga dan para tetangga. Mereka tak menyangka bahwa perselisihan keluarga yang kerap mereka dengar akan berakhir dengan hilangnya nyawa secara tragis di tangan ayah kandungnya sendiri. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana tekanan ekonomi dan masalah psikologis dalam sebuah keluarga dapat berujung pada konsekuensi yang tak terbayangkan.

Komentar