Dua Pedagang Emak-emak Adu Jambak Diduga Rebutan Lapak di CFD Sidoarjo — KRIAN.ONLINE

KRIAN.online Suasana riang dan semarak di area Car Free Day (CFD) Alun-alun Sidoarjo pada Minggu pagi mendadak berubah menjadi arena ketegangan. Sebuah insiden adu fisik yang melibatkan dua orang pedagang perempuan, atau yang akrab disapa emak-emak, menjadi tontonan tak terduga bagi para pengunjung. Peristiwa yang terekam dalam video amatir dan dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial ini diduga kuat dipicu oleh persoalan sengketa lapak dagangan. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas kedua perempuan saling beradu argumen dengan nada tinggi sebelum akhirnya situasi memanas dan berujung pada aksi saling jambak dan dorong yang tak terhindarkan.

Menurut kesaksian sejumlah pengunjung yang berada di lokasi kejadian, pertikaian bermula dari adu mulut yang sengit. Salah satu pedagang menuduh pedagang lainnya telah menempati lokasi yang biasa ia gunakan untuk berjualan. Cekcok mulut yang awalnya hanya berupa saling sindir dengan cepat meningkat menjadi teriakan dan makian. Kerumunan warga yang sedang menikmati akhir pekan mereka pun sontak mengerubungi sumber keributan. Beberapa di antara mereka berusaha melerai, namun emosi kedua belah pihak yang sudah tersulut membuat upaya tersebut sia-sia pada awalnya. Pakaian keduanya tampak kusut dan rambut acak-acakan akibat aksi saling tarik yang cukup brutal.

Insiden ini menyoroti betapa ketatnya persaingan di antara para pedagang kecil yang mengadu nasib di ruang publik seperti CFD. Bagi mereka, lokasi atau lapak yang strategis merupakan faktor krusial yang dapat menentukan besarnya pendapatan harian. Sebuah spot yang ramai dilalui pengunjung bisa berarti perbedaan antara pulang dengan tangan hampa atau membawa keuntungan yang cukup untuk menopang kebutuhan keluarga. Dugaan perebutan lapak ini menjadi cerminan dari tekanan ekonomi yang dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, di mana setiap jengkal ruang berpotensi menjadi sumber konflik laten yang bisa meledak kapan saja jika tidak dikelola dengan baik.

Aksi tidak terpuji tersebut baru berhasil dihentikan setelah beberapa pedagang lain dan petugas keamanan yang berjaga di sekitar lokasi turun tangan untuk memisahkan keduanya. Dengan susah payah, mereka akhirnya berhasil dilerai dan ditarik menjauh satu sama lain. Meskipun perkelahian fisik telah usai, ketegangan di antara keduanya masih terasa. Keduanya terlihat masih melontarkan kata-kata pedas sambil ditenangkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Petugas di lapangan kemudian membawa keduanya ke area yang lebih kondusif untuk dilakukan mediasi, guna mencegah terjadinya keributan susulan yang dapat mengganggu ketertiban umum secara lebih luas.

Video insiden ini, yang direkam dari berbagai sudut oleh pengunjung, dengan cepat menjadi viral. Dalam hitungan jam, rekaman tersebut telah dibagikan ribuan kali dan memancing beragam reaksi dari warganet. Sebagian besar menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut, menganggapnya sebagai tindakan yang memalukan dan tidak seharusnya terjadi di ruang publik yang dinikmati oleh keluarga dan anak-anak. Namun, tidak sedikit pula yang memberikan komentar bernada simpati, memahami bahwa di balik amarah tersebut terdapat perjuangan hidup yang berat dan tekanan untuk bertahan di tengah himpitan ekonomi yang semakin sulit bagi masyarakat kelas bawah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola CFD Sidoarjo maupun dinas terkait mengenai langkah-langkah yang akan diambil pasca-insiden ini. Peristiwa ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk menata dan meregulasi penempatan lapak pedagang di area CFD secara lebih adil dan transparan. Keberadaan aturan main yang jelas, seperti sistem undian atau rotasi lokasi, mungkin dapat menjadi solusi untuk meminimalisir potensi konflik serupa di masa mendatang. Pengawasan yang lebih ketat serta pembinaan terhadap para pedagang juga dianggap perlu untuk menciptakan lingkungan usaha yang sehat dan harmonis.

Pada akhirnya, perkelahian dua pedagang di tengah keramaian CFD Sidoarjo ini lebih dari sekadar tontonan viral sesaat. Ia adalah sebuah potret nyata dari perjuangan ekonomi di tingkat akar rumput, di mana persaingan untuk mendapatkan rezeki terkadang dapat mengesampingkan akal sehat dan etika. Insiden ini menjadi pengingat bagi semua pihak, baik pemerintah selaku regulator maupun masyarakat, bahwa di balik semaraknya sebuah pusat kegiatan ekonomi kerakyatan, tersimpan dinamika sosial kompleks yang memerlukan perhatian dan pengelolaan yang bijaksana agar tidak lagi melahirkan pemandangan yang mencoreng citra ruang publik.

Komentar