Sejarah Sumbergroup dari Krian: Jejak Bus Legendaris Jawa Timur (AKAP dan Reguler) — KRIAN.ONLINE

KRIAN.online Dari sebuah garasi sederhana di Krian, Sidoarjo, lahirlah sebuah nama yang akan selamanya terukir dalam aspal dan memori para pelancong di Pulau Jawa. Ini adalah kisah tentang Sumber Group, sebuah imperium bus yang perjalanannya penuh liku, dari reputasi kontroversial hingga menjadi salah satu pilar utama transportasi antar kota antar provinsi (AKAP) yang paling dihormati, dengan Krian sebagai denyut nadinya yang tak pernah berhenti. Sejarah raksasa transportasi ini dimulai pada tahun 1981, ketika Setyaki Sasongko mendirikan sebuah perusahaan otobus (PO) dengan nama yang kelak menjadi legenda: Sumber Kencono. Dengan armada awal yang sederhana, PO ini memfokuskan layanannya pada rute emas yang menghubungkan dua pusat kebudayaan dan ekonomi, Surabaya dan Yogyakarta. Sejak awal, Sumber Kencono menetapkan standar yang berbeda. Mereka tidak hanya menjual tiket, tetapi juga menjual waktu. Kecepatan menjadi ciri khas utamanya, sebuah proposisi nilai yang menarik bagi penumpang yang ingin segera tiba di tujuan. Dalam waktu singkat, nama Sumber Kencono merajai jalur selatan Jawa. Armada bus mereka, yang didominasi oleh sasis Hino yang tangguh, dikenal dengan julukan "Raja Jalanan". Para pengemudinya dikenal memiliki keahlian dan keberanian di atas rata-rata, meliuk-liuk di antara padatnya lalu lintas dengan presisi yang memukau sekaligus menegangkan. Popularitasnya meroket, dan bagi banyak orang, perjalanan dari Surabaya ke Solo atau Yogyakarta tidak akan lengkap tanpa sensasi yang ditawarkan oleh bus berciri khas ini. Namun, kecepatan yang menjadi keunggulan juga membawa sisi gelap. Reputasi sebagai bus super cepat diiringi dengan tingginya angka insiden di jalan raya. Citra ini melahirkan plesetan nama yang pahit di kalangan masyarakat, dari "Sumber Kencono" (Sumber Kencana/Emas) menjadi "Sumber Bencono" (Sumber Bencana). Titik balik yang menentukan terjadi sekitar tahun 2011-2012. Di bawah sorotan publik dan tekanan dari regulator, manajemen melakukan sebuah langkah transformasi yang radikal dan berani. Mereka memutuskan untuk menanggalkan nama Sumber Kencono yang legendaris namun sarat kontroversi. Ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan sebuah pernyataan komitmen untuk memulai era baru yang berfokus pada keselamatan. Lahirlah dua merek baru yang kini menjadi tulang punggung perusahaan: "Sumber Selamat" dan "Sugeng Rahayu". Kedua nama tersebut, yang dalam bahasa Jawa berarti "Sumber Keselamatan" dan "Sejahtera dan Selamat", menjadi simbol dari kelahiran kembali. Perusahaan melakukan perombakan besar-besaran, tidak hanya pada nama, tetapi juga pada standar operasional, pelatihan pengemudi, dan penekanan pada keselamatan penumpang. Armada diremajakan, dan citra baru mulai dibangun dengan susah payah. Kini, Sumber Group beroperasi di bawah dua bendera utama dengan segmentasi yang jelas. Sumber Selamat melayani kelas ATB (Air Conditioned Tarif Bawah) atau kelas ekonomi, menjadi pilihan utama bagi penumpang reguler yang mencari keandalan dengan harga terjangkau. Sementara itu, Sugeng Rahayu diposisikan sedikit lebih tinggi, terutama dengan layanan kelas "Cepat" yang menawarkan kenyamanan lebih dan waktu tempuh yang tetap efisien, melayani rute-rute yang lebih jauh. Di luar layanan reguler, Sumber Group juga merambah ke segmen pariwisata dengan armada premium berlabel "Golden Star". Meskipun telah berkembang menjadi salah satu PO dengan jumlah armada terbanyak di Jawa Timur, akarnya tetap tertanam kuat di Krian. Garasi pusat di Krian adalah jantung dari seluruh operasi. Di sinilah ribuan armada dirawat, para kru dipersiapkan, dan strategi-strategi baru dirumuskan. Dari Krian, bus-bus ini menyebar ke berbagai penjuru, menjadi urat nadi yang menghubungkan Surabaya dengan kota-kota penting di Jawa Tengah seperti Semarang dan Solo, hingga menembus ke Jawa Barat dengan rute andalan menuju Bandung. Menariknya, di tengah ekspansi yang masif, ada satu rute yang secara konsisten belum dimasuki oleh Sumber Group: rute gemuk menuju Jakarta. Ini menjadi sebuah anomali sekaligus cerminan strategi bisnis yang matang. Manajemen tampaknya memilih untuk fokus dan mendominasi koridor Jawa Timur - Jawa Tengah - Jawa Barat (jalur selatan dan tengah), daripada terjun ke persaingan sengit di jalur Pantura menuju ibu kota. Dari Sumber Kencono yang memacu adrenalin hingga Sugeng Rahayu dan Sumber Selamat yang menjadi simbol konsistensi dan keselamatan, perjalanan Sumber Group adalah cerminan evolusi industri transportasi darat di Indonesia. Sebuah kisah tentang bagaimana sebuah perusahaan dari kota kecil Krian mampu belajar dari masa lalu, beradaptasi, dan bangkit kembali dengan lebih kuat, membuktikan bahwa nama besar tidak hanya dibangun dari kecepatan, tetapi juga dari kepercayaan dan keselamatan yang dijaga setiap hari di ribuan kilometer jalanan Jawa.

Komentar